Rock 'N Roll

Rock 'N Roll

Selasa, 18 Januari 2011

Nothing To Loose

Orang yang dapat merasakan puncak kebahagiaan
adalah mereka yang pernah mengalami puncak penderitaan.

(Monte Cristo, Alexandre Dumas)

Minggu, 24 Oktober 2010

Aku tak tahu di mana aku akan mati...


Aku tak tahu di mana aku akan mati
Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang
ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam ;
Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang ;
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya : “siapa antara kita
akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air ?”-
Aku tak akan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku akan mati

Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena ia mata gelap ;
Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan
kayu berpijar jatuh menimpa mayatku ;
Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api ;
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu dimana aku kan mati

Kulihat si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik kelapa untuk ibunya ;
Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya,
di dalam semak, seperti si Unah ;
Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi
orang lain akan berseru : “Lihat Saijah di sana !”
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati

Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya sudah putih ;
Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap sekeliling mayatku ;
Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat Pak Lisu ; dan juga cucu-cucunya akan menangis, keras sekali ; -
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Banyak orang mati kulihat di badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah ;
Bila aku mati di badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi ;
Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mengingsut mendesir rumput, …….
Aku akan mendengarnya…

(Max Havelaar, Multatuli)

Jumat, 12 Februari 2010

taken from: UDARA JAKARTA (Adhe Su Herman)


AIR PUTIH SI KEMBAR
(27-Jan-’10) Adhe Su Herman


Si kembar berseteru lagi. Hanya karena minuman keduanya tidak ada yang mau mengalah. Melihat peristiwa itu Ibundanya bergegas keluar dan melerai;

“Bagas, Bagus! Hanya untuk minum tidak boleh berebut.”
“Tapi, Mah…” kata Bagas. “Bagas tidak mau gelas plastik ini.”
“Bagus….tukar gelas bening itu dengan Bagas, Nak.” Bujuk Ibunya.
“Tidak, Mah. Bagus tidak mau.”

Sepertinya tidak ada lagi jalan keluar. Ketiganya sama-sama kepala batu.

“Baik..!” putus Ibunya. Dan kedua gelas itu diminta si Ibu untuk diletakkan di atas meja. Si kembar menuruti kemudian keduanya duduk.

“Lihat.” Kata si Ibu sembari menuangkan air yang ada di dalam gelas plastik itu ke dalam gelas bening. Volumenya bertambah, jadi airnya meluap sampai berceceran menggenangi permukaan meja.

“Sekarang,” kata si Ibu. “Mana air punya Bagas, dan mana air punya Bagus?”

Si kembar diam saja. Yang dilakukannya hanya saling pandang-pandangan tidak mengerti, sekaligus merasa khawatir.

“Padahal Mamah menyuruh kalian hanya untuk minum. Bukan untuk mempermasalahkan gelasnya.”

Dari sejak itu, si Ibu menghukum si kembar; keduanya disuruh minum air keran setiap pagi. Dan si kembar kembali menuruti tanpa mempermasalahkan lagi keran yang menampung air untuk mereka. Karena yang mereka tuju adalah air, bukan wadahnya. Dan sesekali air tidak pernah bisa dibedakan jika yang padat tidak ada.


BURUNG GEREJA

(19-Jan-’10) Adhe Su Herman


Pagi-pagi sekali aku sudah kaget. Kaca jendela kamarku dihajar burung gereja. Sungguh sebuah kejutan. ‘Aneh’, kalimat itu kemudian muncul tiba-tiba dalam pikiranku. Jakarta bukan Monggang. Di sini habitat ekosistem sudah terjual habis pada tengkulak urbanisasi. Tapi burung gereja itu masih berada di balik jendela.
Diam-diam aku perhatikan burung tadi dari dalam kamar. Matanya hitam seperti kain Ka’bah. Paruhnya mengatup dan kaki-kainya lemah.

Dan tidak begitu lamanya, burung gereja mendadak pergi lagi entah kemana.

Sore harinya aku bertanya pada Induk Semang; apakah di sini banyak burung gereja? Jawabannya; tidak. Ternyata burung gereja yang menghajar jendela kamarku tadi pagi hanyalah seekor tawanan yang bingung.

Di sebuah ruang teras, seorang anak kecil menenteng sangkar kosong sambil menangis-nangis menanyakan burung gereja pada ibunya:

“Di mana burung gerejaku, Mah?” “Di mana burung gerejaku, Mah?”

Si Ibu tidak tahu kemana perginya, begitupun si Ayah yang tidak pernah ambil pusing dengan kekasih hati anaknya itu. Diam-diam dalam hati aku menjawab;

“Burung gereja itu sedang mencari Gerejanya, Dik.”

Si anak kecil tadi tidak juga diam. Tangisannya kian lama kian pecah.

SEMUT

(14-Jan-’10) Adhe Su Herman


Saat aku memulai kerja, seekor semut menggigit kakiku kuat sekali. Sakit. Tapi aku diam saja. Mungkin dia pikir aku telah membuatnya marah.

Dipertengahan waktu kerja, aku membuat teh hangat. Toples gula dalam keadaan terbuka, di dalamnya penuh semut. Jengkel. Tapi aku diam saja. Mungkin dia pikir gula itu hadiah dari Tuhan.

Usai dari kerja, aku istirahat sambil menonton tivi.

“Sial!”

Gambarnya bergoyang-goyang. Mungkin karena mendung, jadi banyak semutnya.

Setelah aku berkata ‘sial’ itu, semut-semut tidak juga hilang.