Rock 'N Roll

Rock 'N Roll

Minggu, 31 Agustus 2008

O P I N I



O P I N I

Pembaca yang budiman, saya senang sekali dengan program – program televisi yang bermuatkan informasi, pengetahuan dan hal – hal menarik lainnya. Salah satu program terbaru yang pernah saya simak adalah “Golden Ways” yang disiarkan oleh televisi swasta. Materinya lumayan menarik, bahkan ada banyak hal yang disampaikan dalam segmen tersebut membuat saya terbuka hati dan membenarkannya. Naman dari hal - hal tersebut ada satu pernyataan yang cukup mengganggu nalar. Pada suatu kesempatan (pada episode pertama) sang penyampai pernyataan itu berkata bahwa “Semakin gila seseorang maka dia semakin memiliki cinta”. Kurang lebih pernyataannya seperti itu.
Namun seusai saya menonton tayangan program televisi tersebut saya jadi banyak berfikir, bahwa pernyataan tadi seolah – olah merupakan suatu perkataan yang subyektif dan terkesan terburu – buru tanpa memperhatikan sisi - sisi lainnya yang memang sangat berkaitan. Bukankah substansi dari cinta itu sendiri adalah abstrak?
Pembaca yang budiman, jika anda pernah mengetahui legenda cinta abadi tentang Qais dan Laila, maka saya sangat ingin menceritakannya kembali kepada anda. Bahwa pada saat sang Qais mencintai laila dengan sepenuh - penuh cintanya, ia memang betul - betul sampai gila di mata kabilahnya, namun tidak di dalam dirinya. Sang Qais menyaksikan Laila menikah dengan laki laki lain. Hatinya tercabik, namun cintanya sama sekali tidak terbunuh justru semakin suci terjaga. Ia pergi ke hutan gurun dan mengasingkan diri sepanjang hayatnya hanya untuk mengabdikan jiwa dan raganya untuk mencintai Laila seorang.
Suatu ketika, sang singa perang nan masyhur yang bernama Naufal menemukannya saat ia tengah berburu. Dari pertemuan itu lalu merekapun saling bercerita dan akhirnya saling menghargai satu sama lain. Al hasil sang singa perang itupun tergerak hati berniat untuk menolongnya dan berjanji akan membantu Qais untuk merebut Laila kembali.
Seiring berjalannya waktu, sang Qais yang menderita cinta itu kembali hidup terbaur dalam masyarakat di bawah janji Naufal yang akan membantunya untuk merebut Laila. Dan pada hari yang telah ditentukanpun tiba. Sang Qais dan Nauifal beserta pasukannya mendatangi kabilah Laila untuk bernegosiasi. Naufal menuntut agar Laila diserahkan pada Qais dan peperanganpun bisa dihindarkan. Namun kabilah Laila menolak dan berkata,
“ Lebih baik kami musnah daripada Laila harus bersanding dengan si gila itu”. Hasilnya bisa ditebak, peperangan dua pasukanpun terjadi. Pasukan Naufal menyerang kabilah Laila. Mereka terus mendesak hingga sampai pada pertahanan terakhir. Namun apa yang terjadi pada Qais?, lalu apa yang dilakukannya?. Ternyata Qais hanya terdiam di atas kudanya tanpa melakukan sesuatupun hingga peperangan usai dan dimenangkan oleh Naufal. Lalu Naufal bertanya pada Qais,
“Kenapa engkau tidak ikut berperang dan selalu bersorak sorai ketika musuh berhasil membunuh salah satu dari pasukan kami?, sedangkan engkau tau kami berperang adalah untuk membantumu”.
Dan Qaispun kemudian menjawab,
“Aku sangat mencintai Laila, dan aku tidak mungkin menyakiti kabilahnya apalagi membunuh mereka. Dan bukan kesombongan seperti ini yang ingin aku tunjukkan demi cintaku pada Laila”.
Dari penggalan cerita di atas, saya akan menjadikannya sebagai rangkuman untuk menarik kembali pada persoalan awal. Bahwa makna “Gila” yang dikatakan oleh seseorang yang di televisi itu sama sekali tak terdefinisikan. Sedangkan kita bisa melihat dari sikap Qais yang enggan berperang hanya untuk merebut Laila. Qais menunjukkan cinta sejatinya, cinta yang tidak harus berbuat gila untuk menguasai yang dicintainya. Karena cinta Qais adalah cinta yang santun, cinta yang terhindarkan dari nafsu – nafsu yang membuatnya gila dalam arti wadag. Cinta yang berlindung dari hal – hal yang merusak. Cinta baginya adalah cinta yang menyelamatkan dengan perasaan yang lebih jernih. Cinta yang seharusnya menjadi pemimpin bagi kehidupan lahir maupun batin yang dicintainya.
Jadi jelas, kegilaan seorang Qais sama sekali tidak semakna dengan yang dimaksidkan ‘Gila” oleh seseorang di televisi itu. Makna “Gila” dalam konteks ini seharusnya lebih lebar dalam cakupannya mengenai esensi cinta itu sendiri, bukan dalam penerimaan arti gila yang kasat mata, toh bisa saja kegilaan – kegilaan itu tumbuh dari aroganisme nafsu yang terlalu kuat mencengkeram hati dan fikiran seseorang. Seperti halnya saat seseorang itu merasa lapar melilit – lilit namun ia tidak memiliki uang sepeserpun, sedangkan ia sadar bahwa jiwanya sangat mencintai tubuhnya yang telah dianugrahkan tuhan, maka ia berfikir wajib untuk memberi tubuhnya makanan yang bervitamin dan bisa membangkitkan kesegaran kembali. Lalu apa yang harus ia perbuat ?, akankah ia menunggui pemilik warung makan bergegas kebelakang untuk mencuci piring lalu ia mencuri dagangannya!?, ataukah ia merampas semangkuk bubur ayam yang tengah disantap anak – anak balita saat orang tuanya tengah berbincang dengan teman PKK nya!?, atau mungkin bisa jadi ia mengemis, meminta belas kasihan, atau apalah tindakan – tindakan yang membuat ia menjadi gila untuk mendapatkan sesuatu yang dikehendakinya dalam konteks mencintai.
Namun cinta yang sebenarnya akan berkata: “aku akan menyelamatkanmu tubuhku, aku melindungimu dari perbuatan – perbuatan gila dan bodoh agar engkau tetap bersih terjaga dari sesuatu yang kotor dan merusakkan, karena engkaulah milik tuhan yang harus aku pertanggung jawabkan, maka aku akan memilih jalan yang lebih santun untuk mencintaimu”. Dan ia akan selalu berfikir bahwa jalan cinta itu sangat indah, seindah iman seorang muslim tatkala menyungkur di atas kambal lusuh di sepertiga malam.
“Terkadang demi sebuah kebenaran kita harus kehilangan keinginan – keinginan kita, bahkan mimpi kita sekalipun” : (Peter Parker, SPYDER-MAN 2).

Bagiku, pernyataan seseorang yang di televisi itu terlalu sederhana, sesederhana orang yang mengatakan bahwa rembulan itu berbentuk bulat dan berwarna kuning. Padahal kita mengetahui bahwa rembulan itu merupakan tata surya dan bukan benda bulat yang digantungkan di langit dan diberi cat warna kuning. Jadi definisinya tidak akan sesederhana itu.
Saya kira kisah cinta sang Qais terhadap Laila sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai titik pertimbangan dalam mengartikan cinta yang sebenarnya.
Seperti cinta yang disampaikan oleh Muhammad (Rasulullah) sang pangeran cinta yang sejati. Beliau sama sekali tidak pernah menjadi gila dalam penyampaian cintanya untuk semua orang dan semua golongan di sepanjang zaman. Dengan penuh santun beliau menebarkan cahaya cinta, bahkan pada pernyataannya terhadap tuhan tidak pernah terucap oleh utusan – utusan lain. Beliau berkata di hadapan tuhan di depan pintu syurga: “ Hamba tidak akan memasuki syurgawi yang damai sebelum seluruh ummat hamba telah masuk kedalamnya, maka ampunilah mereka ya Allah!”. Dan sepanjang waktu Muhammad selalu berdoa untuk ummatnya sampai akhir zaman, lalu bagaimana dengan ummatnya?, pernahkah mereka memanifestasi cintanya terhadap Muhammad (rasul) atau sekedar titip salam dengan bersholawat kepadanya?.
Cinta beliau laksana cinta matahari yang memberi kehidupan pada bumi. Setiap detik matahari selalu sedia dengan sinarnya yang hangat meski terkadang cahayanya acap kali tertutupi oleh mendung dan planet – planet. Dan matahari tidak pernah berbuat gila atau memaksakan kehendaknya untuk memberi terang pada bagian – bagian bumi yang tertutup dan enggan menerima cahayanya. Ia terlalu setia dengan janji cintanya. Dan selama ini sang matahari tidak pernah meminta balas jasa apapun pada bumi, Samasekali tidak!.
Dari itulah pembaca yang budiman, mungkin alangkah akan lebih bijaksananya apabila kita memulai belajar mengenai tanah lahirnya (cinta) terlebih dahulu sebelum kita belajar tentang arti cinta itu sendiri. Kita mengetehaui bahwa form cinta adalah perasaan, dan perasaan hanya bersemayam di dalam hati. Namun kita juga tidak boleh melupakan bahwa cinta tidak hidup sendirian di dalam hati. Di sana ada sebuah bilik yang dihuni oleh nafsu. Sedangkan sifat nafsu sangatlah obsessif untuk mempengaruhi. Terkadang mencampuri bahkan terkadang juga mengalahkan dari kekuatan cinta itu sendiri. Bijaksananya, berhati – hatilah dalam menyampaikan cinta, jangan sampai kesuciannya dimanipulasi hanya karena kita tidak bisa membedakan mana perasaan cinta dan mana pengaruh nafsu.

“Berempati merupakan salah satu jembatan untuk memasuki bilik – bilik cinta yang benar”.


Penulis :

Adhe.
August 22-30 2008
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Jumat, 22 Agustus 2008

Pensil


P E N S I L


Amara, si gadis mungil berusia hampir sebelas tahun. Matanya sangat bening dengan rambut keriting tebal berwarna gelap. Seolah dua bola matanya yang bening itu laksana bintang – bintang gemerlap yang berada di bawah hitamnya malam. Ia sangat manis dan menggemaskan bagi setiap orang yang dekat dengannya. begitu pula dengan neneknya yang pada malam itu sedang mengrejakan sesuatu di kamarnya. Neneknya begitu terlihat senang ketika dengan tiba – tiba Amara mengetuk pintu dan menerobos masuk menemui dirinya.

“Amara..!?” sapa neneknya kaget.

“Kamu belum tidur sayang..?” tambahnya lagi dengan maksud bertanya pada Amara yang langsung memeluk dirinya.

“Belum nek…” jawab Amara sambil terus menyusupkan kepalanya di pangkuan neneknya yang masih terduduk disebuah kursi.

Nenek itu kemudian mengelus – elus kepala cucunya dengan sayang.

“Nenek sedang mengerjakan apa?” Tanya Amara sembari bangkit.

“Nenek sedang menulis..” Jawab neneknya lembut.

“Nenek sedang menulis tentang Amara ya?” Tanya Amara lagi.

“Iya sayang, nenek sedang menulis tentang kamu.” Jawab neneknya lagi.

“Tapi juga ada yang lebih penting dari itu.” Tutur neneknya.

“Apa itu nek?” Tanya Amara penasaran.

“Mengenai pensil yang sedang nenek gunakan saat ini.” Kata neneknya.

Sesaat Amara memperhatikan pensil yang ada di tangan neneknya. Dia berfikir pensil itu sama sekali tidak memiliki keistimewaan. Baginya pensil itu serupa dengan pensil – pensil lain yan sering ia temukan sehari – hari. Lalu kenapa neneknya berkata bahwa pensil itu menjadi hal yang lebih penting?.

Amara sama sekali tidak mengerti yang dimaksudkan oleh neneknya itu. Hingga pada akhirnya sang nenekpun mulai berbicara untuk menjelaskan pada cucunya.

“Ketahuilah sayang, ada lima hal yang harus kamu teladani dari pensil ini.”

“Yang pertama, pada saat kita menggunakan pensil ini, kita harus mengetahui bahwa pada setiap gerakannya akan meninggalkan jejak. Dan nenek berharap kamu juga akan bersikap seperti pensil ini. Yaitu selalu memperhatikan gerak – gerik kehidupanmu saat dewasa nanti. Sehingga setiap yang kamu lakuakan dapat meninggalkan jejak yang baik bagi kehidupan.”

“Yang kedua, semakin lama pensil ini kita gunakan maka ujungnya akan menjadi tumpul. Maka pensil ini butuh diraut. Meskipun dalam setiap rautannya menimbulakan luka, namun pensil ini pada akhirnya akan menjadi lebih tajam. Dan nenekpun berharap kamu akan seperti pensil ini saat kamu dewasa, yang nanti bisa menyadari saat dalam perjalanan hidupmu mendapatkan cobaan dan ujian. Meskipun rasanya terlalu sakit, namun tujuannya adalah supaya kamu lebih cerdas dalam mensikapi ikhwal kehidupanmu selanjutnya. Maka bersabar dan tawakkallah”.

“Yang ketiga, pada saat kita menggunakan pensil ini dan terdapat kesalahan, maka kita butuh penghapus atau penyetip untuk memperbaikinya. Dan nenek berharap kamu juga dapat mengkoreksi diri dan cepat memperbaikinya saat melakukan kesalahan-kesalahan dalam kehidupmu nanti.”

“Yang keempat, dari pensil ini yang paling utama kita butuhkan adalah isinya untuk menulis dan menggambar, bukan kayu bagian luarnya. Maka perhatikan apa – apa yang ada dalam diri kamu. Karena itu sesungguhnya yang akan menjadi kwalitas diri kamu nanti.”

“Yang terakhir kamu juga harus ingat, bahwa bergeraknya pensil karena dibimbing oleh tangan. Sama seperti hidup kita yang setiap detiknya digerakkan oleh kuasa Tuhan. Maka jangan sekalipun kamu melupakanNYA.”

Saat neneknya usai berkata – kata, Amara yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan kini ia terlihat kembali menengelamkan wajahnya yang mulai sayu dalam pangkuan neneknya itu. Lalu dengan penuh perhatian sang nenekpun membelai – belai cucunya itu hingga tertidur.

* * *

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah Sepuluh malam. Amara baru saja diletakkan oleh neneknya di tempat tidur yang nyaman. Selimut tebal warna salju sudah memeluk Amara dengan rapih. Sesekali nenek itu membetulkan letak leher cucunya yang bertumpu pada bantal yang bercorak bunga – bunga sakura. Lalu ciuman kecil di kening gadis itupun akhirnya disampaikan sebagai ucapan salam sang nenek yang merindukan cucunya menemui mimpi yang terindah.

“Selamat malam Amara..!”. Bisik sang nenek sebelum meninggalkan kamar Amara untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


* * *


(Kado Ulang Tahun)

Adhe

Boarding House, 12 August ‘08

Rabu, 30 Juli 2008

It's my life



"Aku pernah membaca dan mendengar, bahwa ada tiga penghidupan yang disediakan tuhan dalam perjalanan manusia.
Kehidupan di alam kandungan, kehidupan di alam dunia, dan kehidupan di alam barzakh.
Dan ternyata dari ketiganya, hanya dalam kehidupan dunia ini yang paling istimewa.
Karena di dalamnya kita diberi perumpamaan keluarga, sahabat, kerabat dan pasangan hidup.
Kita juga diberi kesempatan untuk saling berbuat baik, care, dan kasih sayang terhadap yang lainnya.
Sedangkan kita mengetahui bahwa kesempatan istimewa itu hanya dilalui beberapa tahun saja.
Lantas apakah kita akan menyia - nyiakannya saat diantara kita diberi kesempatan untuk saling mengenal dan berbuat baik?
Ataukah malah kita tidak merasa rugi apabila kesempatan itu kita rusak dengan hal - hal yang cenderung tidak bermakna bahkan saling menjerumuskan?
Ataukah memang sudah kebiasaan kita untuk berfikir simple, mendewakan rasionalitas, memilih hal - hal yang sesaat seperti usia kehidupan ini yang juga sesaat?
Sangat menyedihkan apabila kita yang berpuluh - puluh tahun belajar dalam kehidupan namun tidak mengerti hakikat hidup kita sendiri".
Bagaimana kalau kita yang seperti itu lantas mati besok?
Apakah kita dapat diberi kesempatan lagi untuk mengulanginya?


"Hidup adalah menabung, dan tabungan itu akan dibongkar saat menghadap tuhan untuk membeli ketenangan yang abadi. dalam hidup kita bekerja, seharusnya bukan untuk keinginan atau kepuasan yang hanya berakhir semu dan menjadi kotoran".

Senin, 21 Juli 2008



Hari kemarin dan hari esok adalah ilusi...
Kehidupan kita terjadi pada hari ini...

Pengakuan Anak Ke Empat Dari Enam Bersaudara.




Mereka bukanlah raja dan ratu dengan segala kekuatannya…

Tapi dalam kehidupanku, mereka adalah sumber pemerintahan yang sejati.

Mereka bukanlah abang none atau pasangan terhebat yang ada dari hasil pemilihan..

Tapi dalam pengakuanku, mereka adalah sebuah tim yang paling aku banggakan…

Mereka bukanlah Romi dan Juliet yang menjadi icon romantisme kebanyakan orang…

Tapi dalam kenyataanku, mereka adalah legenda kasih sayang yang tiada tanding…

Mereka bukanlah jelmaan Tuhan…

Tapi dalam kesadaranku, mereka adalah “ridha” yang karenanya aku diterima oleh Tuhan…


Mereka tidak pernah meminta apapun terhadapku selain untuk aku berbuat baik.

Namun apabila aku meminta pada mereka tentang suatu hal maka mereka akan berkata:

“Jangankan sesuatu hal, andaikan dagingku ini tidak sakit untuk di iris, maka ibu akan memberikannya untuk kamu”.

Dan apabila aku bersalah dan meminta maaf, maka mereka akan berkata :

“ Ibu sudah memaafkan sebelum kamu meminta maaf nak”.


Mereka bukanlah iblis yang selalu salah…mereka bukan pula malaikat yang selalu benar,

Tapi bagiku, mereka adalah kesempurnaan terhebat yang pernah dianugrahkan oleh tuhan dalam kehidupan.

Tuhan percaya,

Tuhan mengetahui kualitas ummatnya.

Enam orang anak lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa tuhan sudah begitu besar memberi kepercayaan kepada mereka.

Tuhan menitipkan, dan mereka bekerja dengan penuh kasih ikhlas.

Dan bagiku mereka telah berhasil. Karena batas waktu yang diberikan kepada mereka adalah saat anak - anaknya mencapai tahap baligh. Selebihnya adalah tanggung jawab masing – masing anak yang sudah menjadi manusia baru.

Tapi tidak demikian bagi mereka.

Perjuangan dalam kasih sayang dan ketulusan dalam setiap nafasnya seperti sebuah kodrati yang tidak bisa ditentang hingga akhir hayat. Aku sangat berdosa jika aku tidak menyadarinya.

Dari itu aku tidak ingin mengecewakan mereka.

Dan siapapun kamu aku meminta…

Jika aku bersalah, tolong tegur aku…!

Karena kesalahan – kesalahan itu kadang serupa dengan kotoran yang melekat di kulit pipi.

Namun jika aku benar, tolong jangan berlebihan…!

Karena benarnya aku merupakan keberhasilan mereka yang selalu berupaya menempatkan aku pada kebenaran.


Dahulu…..

Emakku pernah berpesan.

“Dhe, kemanapun dan di manapun, jangan pernah tinggal sholat dan banyak – banyaklah bersholawat !.”

Bapakku pula berpesan.

“Jangan pernah membatasi pergaulan, tapi jangan pula terpengaruh oleh pergaulan !.”

Sungguh dualisasi paradigma yang sangat menawan.


Salam banggaku untuk mereka kedua orang tuaku.



Adhe.

21-july-08





Minggu, 20 Juli 2008

Cinta apa? Apa cinta?

Saat dijadikannya manusia sebagai laki - laki adalah sebagai permulaan perempuan.
Dan apabila perempuan cenderung terhadap laki - laki,
itu karena hakikat perempuan yang rindu akan tanah lahirnya.
Namun apabila sang laki - laki cenderung terhadap perempuan,
itu karena hakikatnya yang mengasihi tulang rusuknya sendiri.
Laki - laki dan perempuan merupakan satu kesatuan yang saling melindungi.
Dan sangat tidak masuk akal jika kesuciannya dirusak oleh keserakahan nafsu yang sering kali disebut - sebut sebagai cinta.



Kegagalan Cinta Di Tanah Lahirku



Kegagalan cinta di tanah lahirku



“ Apa kabar dhe?”


Sapaan hangat itu aku dengar dari seorang sopir angkutan yang mengantarku pulang menuju rumah.

Iya, aku memang sudah lama tak terlihat olehnya. Mungkin hanya saat – saat libur seperti ini aku bisa bertemu lagi dengan orang – orang yang aku kenal dahulu.

Sekitar jam tujuh pagi mungkin aku baru akan sampai di rumahku setelah semalaman naik kereta dari Jogja.


“ Yah….beginilah…” jawab aku sambil tersenyum kala itu.


Ada banyak hal yang diceritakan oleh kawanku yang sopir angkutan itu. Namun dari kesekian banyak ceritanya aku sedikit dibuat kaget mengenai salah satu penuturannya. Bahwa di desaku akan dilangsungkan pemilihan kepala desa baru. Dan salah satu calonnya adalah tetanggaku sendiri. Namun seperti umumnya masyarakat Indonesia. Hajatan demokrasi rakyat seperti ini cenderung diartikan sebagai lahan aktif yang menghendaki, bukan dikehendaki.

Tidak berlebihan memang apa yang telah diceritakan oleh sang sopir itu. Terbukti saat aku sampai di rumah dan bertemu dengan kawan – kawan lamaku, aku langsung disuguhi cerita – cerita menarik seputar pemilihan kepala desa yang akan berlangsung.

Ada rahasia besar yang sepertinya enggan diutarakan oleh masyarakat tercintaku. Rahasia cinta yang sudah terpalsukan, rahasia adat yang sudah lebih dulu terkafani dan sebentar lagi akan masuk ke liang lahat. Sedangkan orang – orang yang menyembayangkannya seolah bernyanyi merdu tanpa harus menumpahkan air mata mereka yang pelit.

Lalu dimana aku harus mempertanyakan cinta itu?

Karena kegalauanku tidak lebih hanyalah sebuah kebiasaan dan sesuatu yang wajar terjadi bagi mereka.

Lumayan tragis…!!

Pada suatu ketika aku pernah mendengar cerita usang tentang kejayaan desa kami diwaktu lampau. Dan bagi orang – orang tua yang menceritakannya akan terlihat bangga sekaligus menyenangkan. Karena di dalamnya mereka selalu ada untuk cinta, penghargaan, dan pengakuan diri bahwa desa kami memang berawal dari desa yang masyhur akan budi pekerti. Namun seolah berkarat, pisau – pisau cinta itu kini tidak nampak tajam lagi. Gagangnya mulai retak, ujung mata pisau itu kini tidak lagi seram. Mungkin anak kecilpun akan segan untuk mangambilnya sebagai mainan.

Ada apa sebenarnya ini?

Bukankah hari ini lebih muda ketimbang hari kemarin?

Orang – orangku seharusnya lebih cemerlang dengan palsafah cintanya. Karena mereka tidak lagi tertinggal oleh zaman.

Informasi dari segala macam media, strata ilmu pengetahuan yang semakin membaik, ikhwal berfikir merekapun tak kalah kritis dan modern dibanding tokoh – tokoh yang ada di TV.

Lalu kurang apa lagi?

Sehingga terkesan apapun yang diperolehnya tidak begitu bermanfaat.

Sehingga apa – apa yang diwariskan kakek dan neneknya tak lagi menjamin untuk hidup bermartabat.

Dan seseorang akan mengatakan bahwa keberhasilan dari membaca bukanlah pada saat si pembaca menyelesaikan bacaannya hingga halaman terakhir. Tapi terletak pada sejauh mana efek dari bacaan itu untuk mereka pahami dan diamalkan.


Demokrasi…

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Begitu yang sering aku dengar dari guru – guru SD.

Dan sekarang kita bukan lagi anak SD yang kerjanya hanya menghafal sebelum tidur untuk ujian besok. Tapi lebih dari itu. Bahwa dalam esensi demokrasi merupakan pendasaran subyektif yang ditumpukan pada rakyat. Lalu rakyat yang seperti apa?

Apakah rakyat yang menginginkan kedudukan dengan berbagai upaya untuk mendapatkannya?

Ataukah rakyat yang saling menghasut terhadap golongan lainnya?

Lantas yang semula kawan menjadi lawan, saling curiga, menebar kebencian seolah kehendak kita adalah mata tombak yang siap dihunuskan pada setiap perut yang tidak sepihak?

Sepihak!?

Untuk berapa lama?

Lima tahunkah?

Tujuh tahunkah?

Atau sepuluh tahun?

Lalu manusia mana yang selama itu sanggup bertahan dalam kebencian?

Bukankah besok pagi kita harus menyiapkan peralatan untuk pergi ke ladang kembali?

Bukankah sawah – sawah kita akan tetap mambutuhkan aliran air dari sawah - sawah tetangga?

Lalu apa yang kita dapatkan dari penghilangan romansa cinta itu?

Jadi tolong…beri tahu aku tentang kemurnian dari makna demokrasi itu!

Aku betul – betul tidak paham dan tidak mengerti mengenai ini semua.

Aku ingin belajar lagi tentang cinta yang telah dirasakan oleh kakek dan nenekku terdahulu.

Atau setidaknya harus ada yang berani untuk menuliskannya sebagai novel peradaban. Agar anak cucuku tidak lagi menemui kegagalan dalam romansa cinta bermasyarakat yang lebih pure dan beradaptasi.

Bahwa dari semenjak pertama kali kita menangis memang perbedaan –perbedaan itu sudah menjadi bagian atau hak pada setiap diri manusia. Lalu kekuatan apa yang akan sanggup menyangkal bahwa pernyataan itu memang benar – benar iya?




( Sepulang liburan.)

Jogja, 19-juli-08


Adhe