Rock 'N Roll

Rock 'N Roll

Rabu, 11 Juni 2008

Wacana

Aku jadi teringat ucapan seorang tukang becak pada temannya disuatu ketika.

“Wong urip kih ora ono sing gratis mas!” katanya waktu itu.

Dan semua memang harus dibeli. Begitupun dalam ikhwal hidup. Tenaga, fikiran, rasa, kesadaran dan segala kemampuan yang dibekali dalam setiap diri manusia adalah mata uangnya. Mata uang yang berwujud kemampuan untuk mengetahui yang benar, Mata uang yang berwujud kemampuan untuk berbuat yang seharusnya. Mata uang untuk bisa membayar semua yang telah diberikan.

Dan semua konteks memiliki singkronisasi tersendiri.

Akankah seorang Aborigin akan membeli roti dipertokoan meksiko dengan menggunakan mata uang rupiah? Ataukah wajar apabila segolongan arsitek membicarakan peradangan usus buntu dalam pembahasan suatu proyeknya?.

Dan pertentangan – pertentangan seperti itu hanyalah pemborosan tenaga dan waktu yang membuat tujuan semula kita menjadi mubadzir. Nikmati saja kalau semua orang akan menertawakan dan menghina kita. Karena esensi dari tertawaan dan hinaan itu sendiri merupakan cerminan dari konstruks kasih sayang pada kita yang sedang salah dan sedang bermasalah.



Adhe

insprated by the real experience

@2006














Sepatu


“Huu..uu..uu….”

Suara tangisan itu aku dengar lamat – lamat dari luar kamar. Jam setengah sepuluh siang aku masih setengah sadar dalam tidurku. Semakin lama suara tangisan tadi semakin jelas dan membuat tidurku tidak lagi nyaman.

“huu..uu..uu….”

Ya ampuun..kuat sekali anak itu. Batinku jengkel sambil berusaha bangkit dari tidurku.

Seketika aku jadi sadar dan mulai penasaran. Dengan cepat akupun meninggalkan tempat tidurku mendekati jendela kamar yang masih tertutup gorden warna kelabu. Lalu aku menyingkap gorden jendelaku untuk melihat keluar. Aku lihati di luar sana tmpaknya si bayu anak pak jiwo sedang menangis di teras rumah kontrakannya. Dia menangis dengan posisi duduk menghadap kamar kostku.

“hm….pantes suara tangisnya bening banget” batinku kala itu.

Setelah memastikan, aku kembali mendekati bantalku yang sudah nampak seperti globe.

Hari ini aku tidak berangkat kerja. Mungkin karena sudah dua hari ini aku kerja penuh dan tidak tidur. Apalagi kemarin malam aku sempat kehujanan waktu melembur di terminal. Imbasnya sekarang badanku seperti sedang digendongi kuntilanak. Pegal, panas, dan merinding terus.

“sudah toh lek, jangan nangis terus. Nanti kalo bapakmu ada rezeki dibelikan yang baru.”

Suara itu aku dengar dari luar kamar. Nampaknya ibu si bayu sedang berusaha menghibur anakanya yang belum juga berhenti menangis.

Untuk beberapa saat aku masih berusaha untuk meneruskan kemalasanku. Tapi semakin dicoba kedua mataku sepertinya semakin protes. Akhirnya akupun menyerah dan bangkit untuk mengambil handukku yang tergantung di balik pintu kayu. Setelah mengambil handukku, akupun mengganti jeans belelku dengan sarung bermotif kotak – kotak yang sangat teratur menyerupai kawat nyamuk. Tak begitu lama lalu akupun membuka pintu kamar kostku untuk pergi ke kamar mandi.

“nggak pergi kerja mas?” Tanya ibu si bayu bermaksud menegur aku.

“nggak bu, males.” Jawabku seenaknya.

“loh…koq males?, bagaimana mau dapat istri kalau begitu?” ledek ibu si bayu sambil terus mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Dan aku hanya bisa tertawa mendengar ledekan ibu itu. Memang dia paling pinter bikin orang semangat. Dasar ibu –ibu, di mana – mana selalu saja halus dan baik.

Pada saat aku berjalan menuju kamar mandi yang memang melewati depan rumah kontrakan ibu itu, tiba – tiba pak jiwo suaminya muncul dari gang sebelah.

“sudah pulang pak?” sapaku pada pak jiwo.

“iya nih, si bayu ada - ada saja.” jawabnya ringan.

“lho, memangnya kenapa dengan si bayu?” tanyaku tak mengerti.

Lalu sambil duduk di sebelah anaknya iapun mulai bercerita.

“si bayu nangis- nangis minta dibelikan sepatu baru.” Jelasnya dengan wajah kusut.

“memangnya kenapa dengan sepatumu yu?” tanyaku bermaksud pada bayu yang masih terisak.

Tapi anak itu samasekali tidak menjawab. Dia tampak sibuk menghabiskan sisa tangisnya.

“itu loh mas, tadi pagi waktu bayu mau berangkat sekolah, sepatunya yang sebelah kanan hilang, nggak tahu lupa ditaruh dimana, atau mungkin di bawa sama tikus”. Tanpa ada yang menyuruh tiba – tiba istri pak jiwo yang sedang membersihkan kaca depan rumahnya itu berusaha menjawab pertanyaanku.

“memangnya tidak ada sepatu lain bu?.” Tanyaku pada ibu itu.

“ada, cuman ya bayu nggak mau pakai karena sebelah kanannya juga sudah jebol.” Jelasnya lagi.

“terus si bayu nggak jadi berangkat sekolah dong!?” tebakku sambil memperhatikan bayu yang masih mengenakan seragam lengkapnya.

“berangkat, cuman pulang lagi sambil nangis – nangis.” Jawab ibunya.

“kok nangis – nangis, memangnya kenapa?”. Tanyaku menyelidik.

“itu, karena dia merasa malu diejek dan ditertawakan sama taeman – temannya”.

tambahnya lagi.

“diejek?”.Tanyaku lagi makin heran.

“iya, gara – garanya tadi pagi bapaknya bilang begini. Sudahlah yu, sementara kamu pakai sepatu yang kiri semua, nanti…”. Perkataan ibu itu tiba – tiba terhenti waktu suaminya cepat memotong.

“Alaaah…perempuan di mana – mana memang sukanya nambah – nambahin!”. bela pak jiwo.

“memang kenyataannya seperti itu kok!”. bantah istrinya tak mau kalah.

“iya, tapi maksud aku kan baik. Aku bilang sama bayu Cuma seperti ini. Yu, hari ini kamu ada ujian. Jadi daripada kamu nggak dapat nilai dan nantinya dihukum, lebih baik kamu untuk sementara pakai sepatu yang sebelah kiri semua dulu. Nanti mudah – mudahan besok kalau ada rezeki bapak belikan sepatu yang sebelah kanan semua, jadi kedua pasang sepatu itu nanti bisa terpakai lagi. Bener kan mas!?”. Kata pak jiwo dengan muka jengkel seolah minta dukungan aku.

“iya pak..”. jawabku asal sambil menahan tawa.

“lagipula siapa yang mau jual sepatu yang sebelah kanan semua?, kalopun ada ya nanti bayu bakal repot juga waktu ikut paskibra. Teman – temannya menghitung, kiri..kanan…kiri…kanan.., bayu malah menghitungnya kiri melulu toh mas!?”.tandas istrinya sambil memandang kearahku.

“iya juga bu..”. jawabku makin geli.

Dan yang membuat aku tambah geli, sementara bapak ibunya saling ngotot,

anaknya malah bengong saja sambil ngupil.

Lalu sambil tertawa kecil, istri pak jiwopun masuk kedalam dan berkata.

“anak sama bapak sama saja..!”.

“iya, ibunya juga..!”.timpal pak jiwo kesal.

Pak jiwo seorang sopir taksi yang kadang nyeleneh. Dan istrinyapun kalau bicara kadang – kadang kurang teratur. Makanya bukan hal aneh jika hari ini keduanya bertengkar cuma karena hal kecil. Pertengkaran itupun menurut aku terkesan menjadi novelty untuk sebuah keluarga yang sederhana. Karena justru dari kekonyolan – kekonyolan seperti itu keeratan batin mereka semakin terbangun.

Tak berapa lama pak jiwo yang telah menghabiskan hisapan rokoknya mulai bangkit sambil menggendong bayu anaknya.

“mas, aku masuk dulu”. Pamitnya.

“o iya pak, aku juga mau ke kamar mandi” Kataku.

Akhirnya pak jiwo dan anaknya si bayupun masuk ke dalam rumah. Sementara aku yang masih berselendang handuk meneruskan maksudku untuk ke kamar mandi.


***


Malam harinya seusai aku pulang kerja. Aku menemui pak jiwo yang sedang duduk sendiri di teras depan rumah kontrakannya. Seperti biasa, sambil menghembuskan asap rokok iapun menyapa aku yang tiba – tiba datang manghampirinya.

“baru pulang?” sapanya.

“iya pak”. Jawabku.

“sini duduk!”. Ajak Pak jiwo sambil menyodorkan kursi plastik warna hijau daun yang ada di sebelah kanannya.

“makasih pak” sahutku singkat.

Setelah aku mengambil posisi duduk sejajar dengannya, pak jiwo langsung berkata kepadaku.

“Aku kok heran ya.., kenapa semua orang menertawakan anakku?” ungkap pak jiwo tanpa menoleh ke arahku.

“padahal apa salah dia?” tambahnya lagi.

“kalaupun itu gara – gara anakku memakai sepatu kiri semua, aku fikir itu sah – sah saja. Lha wong kedua – duanya sama – sama sepatu toh mas!?” ungkapnya lagi. Kali ini dia menyerongkan mukanya ke arahku.

Dalam hati justru aku yang bertambah heran. Kenapa seorang pak jiwo sampai sejauh itu memikirkan permasalahan kecil. Toh kalau dia pergi ke tukang loak dan membeli sepatu bekas buat anaknya, saya yakin semuanya akan beres.

Tapi saat itu aku hanya diam saja tanpa menanggapi apa yang dipikirkan oleh pak jiwo. Aku hanya bisa melihati dia yang terus saja menatap kosong sambil kedua bahunya bersandar di dinding yang berwarna pudar. Sesekali aku perhatikan ia memainkan batang rokok kretek di sela – sela jarinya yang legam. Jari – jari yang menggambarkan kerja keras seorang perantau. Padahal usianya belum terlalu tua. Menurut pak jiwo dia menikahi istrinya saat berumur dua puluh empat tahun. Itupun kata istrinya pak jiwo masih punya hutang maskawin sampai sekarang. Dan sekarang usia perkawinannya sudah hampir tiga belas tahun. Hm…benar – benar keterlaluan.

Sesaat keadaan menjadi hening. Badanku mulai terasa capek. Aku samasekali tidak bersemangat untuk ngobrol lama – lama dengan pak jiwo. Hingga pada saatnya pak jiwo kembali menghadapi aku dan nampak mulai berkata – kata lagi.

“begini saja mas..,besok kita berangkat kerja pada jam yang sama. Dan sebelum memulai kerja masing – masing, sepatu kita bertukaran sebelah. Gimana?”.tutur

pak jiwo.

“maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.

“ya saya memakai sepatu mas yang sebelah kiri. Dan mas yang memakai sepatu saya yang sebelah kanan. Jadi saya kerja dengan memakai sepatu sebelah kiri semua, dan mas yang kerja memakai sepatu sebelah kanan semua”.jelasnya.

“tungu…tunggu…tunggu.., kok masalahnya jadi rumit gini sih pak?” tanyaku

semakin tak mengerti.

“yang rumit itu otak mas, bukan masalahnya..” tegasnya.

“waduuuh…pak jiwo ini ada – ada aja..” sahutku melemah.

“jadi maksud saya, saya ingin tahu kenapa kok bisa – bisanya anakku itu ditertawakan banyak orang. Nah, aku pengen membuktikan. Lagipula Cuma sehari doang kok mas..” paparnya lugas.

Ya ampuun…Aku samasekali nggak bisa mikir.

Yaah…coba ya kalau waktu pulang tadi aku langsung masuk kamar. Mungkin aku nggak bakal ketemu dengan ide konyol kayak begini.

“Gimana mas?”. Tanya dia lagi.

“Iya deh atur aja…, emang ya sopir taksi jaman sekarang…”. sungutku tak bersemangat.

“nnaaah…gitu dong…baru namanya teman..” katanya dengan wajah sumringah.

“ayo..ayo..diminum kopinya..!” tawarnya padaku dengan riang.

Yaaah…lagian kopi yang mana?. Orang ada segelas doang. Mau kayak pengantin

baru gitu barengan sama dia!?. Hmm…mending juga tidur pak. Bisa ketemu sama artis.

“ayolah diminum..!” tawarnya lagi setelah melihat aku yang terus diam.

“iya makasih pak, aku mau pulang aja.” Tolakku halus.

“loh..kemana?” tanyanya.

“ngantuk”. Jawabku sambil berlalu.

“ya sudah..sampai besok ya..jangan lupa!”. Katanya lagi.

“iyaaaa..”. jawabku malas sambil masuk kamar.

***

Pagi harinya aku berangkat kerja berbarengan dengan pak jiwo tetangga kostku itu. Kami berjalan menyusuri jalan gang yang menuju jalan besar. Dan sepeti yang telah direncanakan pak jiwo tadi malam, sesampainya kami di ujung gang pak jiwo mengajak aku untuk berhenti sejenak di depan sebuah bengkel yang kebetulan pada jam itu masih tutup.

“ayo lepas sepatumu!”. Suruhnya.

“iya sabar..”. ucapku.

Setelah kami bertukaran sebelah dari sepatu kami masing – masing, kamipun

berpisah untuk menuju tempat kerja. Namun sebelum berpisah, kami berdua sempat memandangi sepatu kami masing – masing. Dan tanpa berkata – kata, tawa kamipun spontan meledak berbarengan. Hwa..ha..ha..ha..ha..!! ( Hm…benar – benar aneh! ).

Ada perasaa risih dan malu yang sangat luar biasa yang aku alami selama memakai sepatu sebelah kanan semua itu. Memang tidak semua orang yang dengan seksama memperhatikan sepasang sepatu yang aku kenakan. Namun bagi yang melihatnya sangat mustahil untuk bisa menahan ketawa atau sekedar berkomentar aneh. Apalagi waktu aku bertemu dengan rekan – rekan senasibku di tempat biasa kami mengambil barang dagangan sebelum berjualan.

“lek, kakimu kok kayak kepiting?” ucap ibu penjaga warung waktu itu.

“iya bu, kan lagi musim!”. Jawabku seenaknya.

“ha..ha…ha…sepatumu ketuker di musholla mana?” celetuk kawanku.

“tau nih, yang nukernya aja gak liat – liat”. Jawabku lagi.

Tidak habis – habisnya kawan – kawanku itu memberi komentar yang tentu saja bukan pujian. Tapi aku tanggapi dengan santai. Toh yang mereka tahu tentang aku memang aku dikenal suka asal dan seenaknya.

Waktu terus berlanjut. Aku kemudian berjualan seperti biasanya. Meski terkadang aku merasa risih dan malu dengan tanggapan orang – orang mengenai sepatuku. Tapi aku menutupi perasaan maluku itu dengan selalu berpura – pura tidak melihat mereka dan terkesan aku tidak menyadari apa yang sedang mereka perbincangkan dan mereka tertawakan.

Tak terasa hari sudah siang. Daganganku masih tinggal separuh lagi. Aku memutuskan untuk beristirahat di sebuah musholla kecil di area belakang halte pemberhentian bus kota. Sebenarnya tidak terlalu masalah dengan sepatuku yang berpasangan tidak selayaknya itu. Buktinya aku masih bisa berjualan tanpa ada yang terganggu atau mengganggu. Tapi aku juga berfikir. Aku seperti menyalahi kodrat dan aturan yang tidak bisa ditentang. Sepengetahuanku, belum ada suatu kaum atau golongan yang mempunyai tradisi mengenakan sepatu kiri semua atau kanan semua. Kalaupun ada paling – paling juga si gimbal pasar induk yang setiap harinya mengenakan aksesoris serba plastik bekas sayuran itu. Lha kuda saja belum tentu mau diberi sepatu kiri samua atau kanan semua. Apalagi manusia. Jadi kalau ada yang meledek, menghina atau mentertawakan aku bukan berarti mereka yang salah. Justru ledekan, hinaan dan tertawaan mereka itu sebenarnya nasihat dan teguran bahwa aku ini sedang salah dan sedang bermasalah.


***

“ lek..lek..bangun lek!”

Aku terperanjat kaget ketika ada orang yang menggoyang – goyangkan tubuhku. Setelah sadar, akupun bergegas bangkit dan mengambil barang daganganku yang aku letakkan di rak penitipan sepatu. Sepertinya pada waktu istirahat seusai sholat dzuhur tadi aku bablas ketiduran. Untunglah si takmir musholla itu membangunkan aku tepat waktu. Kalau tidak, mungkin aku bisa dijadikan sajadah buat orang – orang yang menunaikan sholat ashar nanti.

***

Tapatnya jam lima sore, aku merasa tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan pekerjaanku apalagi berniat lambur. Terakhir tumpangan, aku turun di pangkalan taksi tempat dimana pak jiwo biasa nongkrong. Niatnya ingin bertukar sepatu dan langsung pulang. Tapi sialnya pak jiwo sedang ada tarikan. Jadi terpaksa aku urung untuk bertukar sepatu. Dan bukan itu saja, teman – teman seprofesinya pak jiwo mentertawakan aku habis – habisan. Yah…aku maklum sih. Soalnya rata – rata semua sopir yang ada di pangkalan itu kenal baik dengan aku. Jadi wajar saja kalau mereka tidak canggung untuk meledek aku.

“ eh lek, mbok ya kamu itu masih muda, belum punya istri. Jadi nggak usah ikut – ikutan gendeng kayak si jiwo itu!”. Ledek salah satu dari rekan mereka.

“ aku nggak ikut – ikutan kok pak..!”. tegasku sambil terus mengunyah gorengan tempe yang aku ambil dari warung pangkalan itu.

“ lha itu, sepatumu..!”. Katanya sambil menunjuk – nunjuk sepatuku.

“ ya itu kan pak jiwonya saja yang ikut – ikutan aku.., gengsilah aku ikut – ikutan dia!”. balasku lagi.

“ hwa..ha..ha..ha..hah..ha..!!, ya itu namanya sama saja. Malah kamu yang lebih parah..!”. sambung temannya lagi sambil terbahak – bahak..

“ kok parah??, macam tubrukan opelet saja lah kauuu…!!” kataku menimpali dengan gaya bahasa batak. Karena memang yang terahir nyeletuk itu berasal dari medan.

Spontan pangkalan itu jadi bising dengan ocehan – ocehan yang dibarengi beraneka macam tertawaan para sopir taksi itu.

“ sudahlah bang, aku pulang dulu”. Pamitku sambil meminum es teh milik salah satu sopir itu.

“ pulanglah sana, bilang sama si jiwo itu supaya jangan ikut – ikutan lagi. Malas aku tengok dia setiap hari seperti itu. Hwa..ha..ha..ha..!!”. katanya sambil dibarengi tertawaan teman – temannya.

“ siiipp..!!”. jawabku sambil berlalu meninggalkan pangkalan taksi itu.


***


Usai setoran dan mengambil hasilnya, akupun berpamitan pada bos yang punya barang daganganku.

“ aku pulang dulu pak”. Pamitku.

“ o iya hati – hati !”. kata bapak itu membalas.

“ besok ganti loh lek sepatunya !” tambah istrinya penuh perhatian.

“ siipp..!!”. jawabku enteng.

Kali ini aku pulang tidak seperti biasanya. Aku tidak melewati arah dari jalan besar. Tapi kali ini aku berjalan kaki menyusuri jalan jalan kecil perumahan menuju kostanku.

Tidak tahu kenapa aku suntuk sekali hari ini. Mungkin karena aku yang belum benar – benar fit dari sakit, atau mungkin juga dikarenakan ide pak jiwo yang konyol itu. Tapi yang jelas saat ini aku sedang geram sekali sama pak jiwo yang tidak bisa aku temui di pangkalan tadi. Karena bisa saja nanti istrinya marah – marah sama pak jiwo lantaran tahu sepatunya bertukaran sebelah dengan aku. Mungkin kalau dia seusiaku dan belum punya keluarga, sudah aku pelintir kupingnya biar jadi dodol sekalian. Hm..mungkin ini kali ya yang disebut – sebut anggun c. sasmi!?. Tua – tua keledai!.

Tak terasa aku sudah sampai di gang petruk. Artinya tinggal satu belokan lagi aku masuk gang cakil dan sampailah aku di kostku. Tapi..istrinya pak jiwo sore – sore seperti ini biasanya lagi sinden gossip sama tetangga – tetangganya. Wah..simalakama juga.

Aku terus membatin sepanjang menuju kostanku. Dan dalam kebingungan seperti itu tiba – tiba aku kaget mau bertubrukan dengan seseorang yang datang dari arah gang sebelah.

“ Oupps..!!”. kagetku.

Hari ini benar – benar membuat aku naik darah. Ternyata orang yang mau tubrukan denganku itu adalah orang yang membuat aku jengkel seharian. PAK JIWO.

Aku berdiri mematung menahan geram. Dan aku lihat juga pak jiwo dengan wajah tak berdosanya hanya diam saja berdiri tak bergeser sama sekali dari hadapanku. Aku semakin bertambah jengkel. Namun entah kekuatan apa yang membauat mata kami saling memandang muka masing – masing. Dalam, lekat, penuh amarah, dan sedikit aneh. Karena kuperhatikan sudut bibir legam pak jiwo seperti perlahan – lahan tertarik kesamping. Dan pada saat yang tidak bisa dibendung lagi, saat itulah dengan spontan kami seperti ada yang memberi komando.

“hwa..ha..ha..ha..ha..!!hwa..ha..ha..ha..ha..!!”

Aku dan pak jiwo tertawa kencang bersamaan. Kami terus saja terbahak – bahak sambil memegang perut masing – masing. Kami tidak kuat menahan tawa. Untuk beberapa saat lamanya tawa kami tidak juga berhenti. Namun sesekali tawa kami itu surut dengan sendirinya. Aku dan pak jiwo tetap memegang perut sambil mengaduh – aduh menahan mules dan ngilu di punggung. tapi tidak begitu lama tawa itu meledak lagi dengan kekehan yang lebih kencang. Seperti ada ribuan pelawak saja yang menggelitiki kami. Sampai - sampai tidak sadar kalau tingkah laku kami sedang diperhatikan oleh beberapa orang kampung yang kebetulan melihatnya.

Tertawaan itu akhirnya membuat kami menyerah dan lelah. Sambil terus memegangi perut masing – masing, kami berduapun terduduk di tanah dan bersandar pada dinding pagar gang yang penuh coretan bomber.

“ memang…memang..” aku dengar suara pak jiwo terputus – putus oleh nafasnya yang tersengal – sengal.

Namun setelah berusaha menenangkan diri, aku lihat pak jiwo sepertinya mulai menyambung kata – katanya lagi.

“ memang mas, memang bener – bener konyol…!”. Katanya.

“ sudah tahu konyol masiiih saja ngotot bertukaran sepatu..!” kataku menimpli.

“ iya, kadang orang itu malas mengakui kebenaran yang sudah pasti”. Ucapnya.

“sudahlah aku mau pulang. Balikin sepatuku!”. Pintaku dengan nada sedikit jengkel.

Setelah kami saling bertukar sepatu. Kamipun langsung bangkit dan berjalan menuju tempat dimana kami tinggal.


***


Malam ini seperti biasanya. Aku sendirian di kamar sambil mendengarkan musik yang disuarakan dari gelombang radio lokal. Tidak banyak hal yang aku lakukan dalam kamarku. Aku hanya berusaha nyaman dengan duduk bersandar di atas kasurku sambil melihati gambar – gambar dari Koran bekas. Tapi entah kenapa tiba – tiba saja aku jadi teringat dengan kata – kata yang diucapkan pak jiwo tadi sore.

“kadang orang itu malas mengakui kebenaran yang sudah pasti”. ucapnya kala itu.

Kiri dan kanan. Tak ubahnya Laki – laki dan perempuan. Yang keduanya merupakan bentuk symbolic atas perbedaan yang tidak bisa dibantah namun tidak pula untuk dipisahkan apalagi ditukar.

Tidak ada kreatifitas yang bisa mengubah keadaannya menjadi lebih indah selain menjaga. menghargai dan mengakuinya sebagai kebijaksanaan dari sang maha bijaksana. Haruskah orang - orang yang memiliki ide konyol seperti pak jiwo lalu dikatakan sebagai seseorang yang lebih sempurna dibandingkan kebijaksanaan – kebijaksanaan yang telah ditetapkan olehNYA? Ataukah memang harus seperti itu agar kita dikatakan sebagai seseorang yang memiliki gaya hidup sendiri?.

Gaya hidup…!?

Gaya hidup macam apa lagi…?



Adhe

(Taken from my experience at ’04.)

11--06-08 Yogyakarta.







Selasa, 10 Juni 2008

Kecewa


Rasa kecewa itu bukan hadiah, bukan juga kutukan yang tidak bisa disembuhkan. Rasa kecewa itu merupakan sifat dasar yang ada pada setiap hati.

Rasa kecewa bisa diapresiasikan sebagai suatu penghormatan atas harapan – harapan yang sempat terbangun. Rasa kecewa adalah membenarkan kelemahan. Rasa kecewa adalah cambuk yang membangunkan ingatan kita bahwa kita bukanlah Fir’aun.

Rasa kecewa itu bukan sesuatu yang asing.

Akui saja dan berbenahlah…!

Biarkan kekecewaan – kekecewaan itu membentuk polanya sendiri. Karena sang Nabi Yunus pun pernah meninggalkan ummatnya. Seorang bayi yang polos akan merengek meminta air susu ibunya. Dan gigitan semut akan lebih tajam saat ketenangannya telah terusik.

Pejamkan kelelahan kita barang sejenak. Menangislah demi kebebasan. Karena sesungguhnya saat sedih merupakan saat refreshing bagi jiwa – jiwa yang kekar.

Dengarkan perkataan orang – orang yang pernah merasakan sebelumnya. Bahwa

Thomas Alfa Edison menderita gangguan pendengaran hanya untuk menikmati ribuan kekecewaannya. Ribuan pahlawan diasingkan dari kebebasannya. Pramoedya Ananta Toer pernah pula bertahun – tahun tidak bertemu dengan keluarganya dalam pembuangan. Prajurit – prajurit islam semuanya bermuka murung saat pulang sehabis perang badar. Dan semua orang yang menjadi besar adalah semua orang yang terus bertahan dan bangkit dari kekecewaannya.

Thomas Alfa Edison memberi penerangan pada dunia. Para pahlawan menjadi mata uang untuk kemakmuran suatu negri. Pramoedya Ananta Toer terus menulis dan mengguagah hati pembacanya. Syuhada – syuhada islam adalah tonggak yang menjadikan islam sebagai agama terbesar dalam peradabannya. Dan kita tidak seharusnya meninggalakan jalan yang sudah ribuan mil kita tempuh.

Lupakan apapun yang kita anggap telah meninggalakan. Karena sesungguhnya hanya Tuhan saja yang tidak akan pernah meninggalakan. Berdirilah diatas kayikanan. Karena kekecewaan itu sangat sakit namun juga tidak sedikitpun membunuh.

Bukankah kita pernah melihat awan!? .

Bukankah kita juga pernah basah oleh airnya!? .

Dan ingatkan diri kita bahwa tumpahan air dari langit akan selalu ditujukan pada bumi. Dan sadarkan kesombongan kita, bahwa meredanya air hujan tidak menghabiskan sisanya yang terkumpul di langit.



“ Seorang yang berfikir sukses tidak akan pernah mengingat berapa kali ia mendapat kekecewaan, tapi ia akan mengingat berapa kali ia sanggup brjalan dalam kekecewaan”.



Adhe.

Usai UAS’ 07-06- 2008





“Say it flower”.


“Say it flower”. Ungkapan itu sudah terlalu akrab bagi kita yang pernah mendengarnya. “katakan dengan bunga”, mungkin hal itu pula yang menjadi kebijaksanaan seorang manusia yang mengakui kelemahannya dalam berbahasa.

Ada milyaran ide dan gagasan yang belum kita dengar dan kita baca dari setiap fikiran manusia. Mungkin saja semua ide – ide dan gagasan – gagasan itu jauh lebih luar biasa ketimbang ide – ide dan gagasan - gagasan yang telah kita ketahui melalui perkataan, bentuk, maupun tulisan.

“Say it flower” merupakan kebijaksanaan untuk berbuat atas keterbatasan. Merupakan suatu wujud apresiasi, memanifesto yang tersimpan, dan gerak komunikasi yang paling efektif. Kreatifitas yang menyempurnakan kedirian manusia itu sendiri. Ialah suatu keunggulan manusia yang mengenal media untuk melakukan yang terbaik bagi sesamanya.

Umpama seorang pembeli datang ke sebuah toko swalayan. Ia bisa dengan leluasa memilih barang – barang yang ia kehendaki. Tanpa bertanya barangnya yang mana dan kwalitasnya seperti apa. Sedangkan si pelayan hanya diam menunggu si pembeli selesai memilih kemudian membayar. Hal ini sangat menakjubkan. Karena di dalamnya terdapat konteks komunikasi yang sinergis antara si pembeli dengan barang yang dicarinya. Barang itu berbicara, mengenalkan diri dengan berbagai data dan identitasnya masing – masing. Namun apa yang lebih hebat dari itu? Selain pemberian karya dalam bentuk nyata yang bisa difahami dan bermanfaat bagi orang lain. Bukan dalam besar dan kecilnya sebuah karya akan diskalakan. Tapi kemampuan untuk berbuat.

“Say it flower!” ,“say it form!”.

Dua bulan yang lalu aku sempat mengikuti pengamatan karaya arsitektur YB. Mangunwijaya di Wisma Salam dan Sendangsono Yogyakarta. Pengamatan itu aku lakukan bersama - sama dengan kawan – kawan SPA yang di bawah bimbingan dosen kami Ir. Priyo Pratikno. M.T.

Dari pengamatan karya itu aku dapat berkomunikasi dengan maksud – maksud dari penggagas. Dari pengamatan karya itu pula aku mendapat pengetahuan tentang banyak hal. Di dalam karya itu tersimpan suatu kekuatan yang luar biasa. Di dalam karya itu pula terdapat siratan pesan yang sangat bijaksana.

Kekhasan dari karya – karya YB. Mangunwijaya yang telah dilahirkannya yaitu terletak pada penggunaan bahan dan pengolahannya yang kretaif dan sarat filosofis. Beliau mampu menciptakan sesuatu yang mungkin saja bagi orang lain sudah tidak layak tapi bisa menjadi kekuatan nilai pada karyanya. Baginya menciptakan suatu karya yang indah tidak selalu pasif mengandalkan barang mahal dan pabrikasi. Justru dari suatu keterbatasan akan memunculkan ide – ide istimewa dan melahirkan suatu kreatifitas yang luar biasa.

Artinya, bentuk karya yang nampak pada arsitektur YB. Mangunwijaya tersebut merupakan suatu komunikasi pada setiap generasi. Bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan yang sama hebatnya. Bahwa dari karyanya pula dengan tidak sadar kita tengah berbincang mengenai apapun yang terdapat di dalam diri dan pemikirannya. Dan semua itu terwakili oleh form yang terwujud.

“Say it flower”, bunga adalah bentuk ekspresi yang menggambarkan emosi si pemberi. Perumpamaan maksud, dan penyampai pesan yang ditujukan pada orang yang menerimanya.

Jadi…tidak sepenuhnya benar jika kita terus bungkam.

Ungkapkan saja apapun yang menjadi ide dan gagasan itu menjadi bentuk yang kita sukai. Menjadikan sebuah karya sebagai cermin kreasi yang artistic. Jangan tunggu orang – orang di sekitar kita terlalu jemu dengan kegaguan kita. Karena Dr. Ir. Wahyu Suparto pernah pula mengatakan pada program PPKIM Kopertis V Yogyakarta sebulan yang lalu, bahwa suatu pemikiran belum dikatakan ide sebelum menjadi sebuah tulisan. Dan tentu saja maksud dari “tulisan” itu adalah sebagai titik pusat yang diorientasikan pada bentuk karya lain. Dan Dra. Sylvi Dewajani, Dip.,NEBSM. juga mengingatkan kepada peserta waktu itu bahwa kesalahan fatal bagi orang yang tidak kreatif adalah merasa dirinya tidak kreatif. Dan yang harus selalu diingat adalah pesan dari temanku yang membuat aku malas menyebutkan namanya. Dia bilang “lebih baik narsis daripada minder…!”. Hm…..asal tidak berlebihan, boleh juga brow..!.

“Say it flower!” ,“say it form!”, “say it work!”.


Adhe

07-06-08 Yogyakarta.


“Nilai estetis dan kenyamanan akan timbul dari rasa dan fikiran yang bijaksana”.



Senin, 02 Juni 2008

pesan dosen..



hal ini aku dapatkan waktu aku nganterin temenku kerja praktek kurang lebih sebulan yang lalu.
kebetulan tempat kerja prakteknya adalah proyek dosen kami di kota yogyakarta.
dan aku sempat mendengar dosenku yang kebetulan sedang ada di lapangan ( proyek ).
beliau mengingatkan aku tentang tiga hal yang menjadi faktor sukses manusia.
yang pertama beliau menyebut intelektuil,
yang kedua emosionil,
dan yang ketiga spirituil.
mungkin jika dinalar dengan logika ketiga faktor tersebut merupakan sudut2 yang membangun sebuah massa, dimana bila salah satunya tiada maka konstruks kesuksesan manusia akan pincang dan tidak utuh seperti segitiga yang kehilangan satu garis.


Minggu, 04 Mei 2008

BUS ANTAR KOTA


BUS ANTAR KOTA



Waktu itu sore sekitar jam duaan. Sayangnya aku lupa hari apa, tanggal berapa dan bulan apa. Yang jelas aku masih ingat saat berjualan di bus antar kota waktu itu.

Seperti biasanya, setiap kali aku selesai menawarkan dagangan, aku mencari bangku kosong yang belum terisi penumpang untuk duduk sambil menunggu bus yang aku tumpangi sampai di halte berikutnya.

Wuihh...nyaman sekali rasanya bila masih paruh hari seperti ini sudah mendapatkan hasil yang lumayan. Sambil duduk, perlahan akupun mulai menghitung uang yang ada ditanganku, jumlahnya tidak banyak. Tapi buat sekedar makan hari ini cukuplah. Mungkin keuntungan selebihnya aku sisakan untuk menabung. Fikirku waktu itu.

Baru saja sebentar aku masukkan uangku ke dalam saku, tiba – tiba saja kondektur bus menegur aku.

” Nuwun sewu lek, mbak’e iki ajeng linggih ” kata kondektur itu sambil memapah seorang perempuan muda yang baru naik.

” Ooo..inggih pak..monggo !” jawab aku mengiyakan.

Sopan sekali kondektur itu. Tapi buat aku kesopanan seperti itu seperti sesuatu yang wajar dan tidak berlebihan. Umpamakan saja bila kondektur itu lahir di daerah papua atau medan. Tentu ia akan berbicara atau bertingkah laku dengan kesopanan dalam bentuk lain. Karena setiap kelompok manusia di tiap daerah memiliki etika dan kesopanan menurut filosofi moyangnya masing – masing. Bagiku setiap orang dari suku dan golongan apapun ya sama saja. Etika dan kesopanan mereka itu hanyalah adat istiadat yang turun temurun. Pada dasarnya kesopanan yang sejati itu timbul dari kesadaran individu manusia itu sendiri tentang hal – hal baik. Bukan didapat dari apapun dan siapapun di luarnya.

Tidak berapa lama kemudian. Alah maak...ternyata bus itu tidak berhenti di halte yang aku maksudkan. Mungkin dikarenakan ada bus lain yang sedang parkir di sana. Yah mungkin sudah nasib aku harus mengulangi ruteku dari terminal.

Akhirnya akupun harus sabar berdiri menggelantung di antara tempat duduk penumpang. Dalam keadaan seperti itu tiba – tiba penglihatanku tertarik pada seorang ibu paruh baya. Umurnya kurang lebih seusia dengan ibuku. Ibu itu duduk tidak seperti umumnya penumpang lain. Ia selalu menunduk, seluruh mukanya tertutupi kerudung warna biru muda selaras dengan warna kebaya batik yang ia kenakan. Lama aku perhatikan ibu itu. Aku pikir dia ngantuk dan tertidur. Mungkin juga kecapekan atau apalah. Aku sendiri tidak begitu jelas karena posisiku empatpuluh lima derajat di belakang dia.

” Uuuuoukkhh...uuuoukkhh..!!” tiba – tiba saja suara ibu itu menarik perhatian semua penumpang termasuk aku.

Rupa – rupanya ibu itu tengah mabuk kendaraan. Kepala ibu itu terlihat semakin menunduk ke bawah seperti ayam jago yang sedang minum air.

” Kasihan sekali ibu itu ” batinku.

Muntahannya terus berulang – ulang tanpa dihiraukan oleh orang di sekitarnya. Akupun hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat sesuatu. Sampai pada akhirnya bahuku seperti ada yang mencolek.

Kontan aku menoleh mencari orang yang mencolekku tadi. Ternyata kondektur bus itu langsung menyodorkan kantong plastik warna hitam berukuran mini. Dan hanya dengan isyarat kepalanya yang digerakkan aku langsung mengerti. Akupun mengasihkan kantung plastik itu pada ibu tadi.

” Maaf bu, barang kali ibu butuh ini ” sodorku pada ibu itu.

Lalu ibu itupun menerimanya sambil menjawab.

” Matur nuwun...!” singkat sekali tanggapan ibu itu. Mukanya terlihat pucat. Sisi kerudungnya yang anggun seperti basah oleh air. Setelah menerima kantung plastik yang aku berikan, iapun kembali menunduk seperti ada sesuatu yang ia tutupi dengan rapat.

Lalu aku kembali pada posisiku semula. Berdiri, menggelantung, menenteng barang dagangan sambil sesekali melihati penumpang yang tampak jenuh oleh perjalanan. Namun tidak jauh dari tempat duduk ibu itu tampak pula seorang laki – laki muda yang tengah asik dengan MP3nya. Aku lihat anggukan kepalanya seperti mengikuti beat – beat musik yang ceria. Ia seperti tidak peduli dengan orang – orang sekitarnya, kepalanya terus mengangguk dengan kedua telinga yang disumpal phone kecil warna silver. Agak lama aku perhatikan dia, sampai – sampai aku lupa dengan keberadaan ibu yang tengah mabuk kendaraan tadi. Hehehe..aku jadi tertawa kecil dalam hati.

Hakikat manusia memang sendiri. Ia terlahir, menjalani hidup, mati, dan dikhisab oleh Tuhanpun tetap sendiri dan bertanbggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin dari rangkaian tadi hanya hidup yang paling istimewa. Karena dalam hidup manusia diberi kesempatan untuk mengenal sosialitas, dalam hidup ada perumpamaan keluarga dan kerabat. Dalam hidup manusia memiliki kasih dan sayang terhadap manusia lainnya. Meskipun pada hakikatnya tetap saja setiap hal yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya adalah demi ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan dirinya semata.

***

Sekitar jam tigaan, bus yang aku tumpangi itupun akhirnya sampai juga di terminal Giwangan.

Dari speaker aku mendengar petugas informasi terminal mengucapkan selamat datang dan mengabarkan bahwa penumpang telah sampai di terminal yogyakarta.

Aku menepi ke sudut belakang mendahulukan para penumpang agar turun lebih dulu. Setelah semua turun, akupun bergegas turun mengikuti penumpang – penumpang itu dari belakang. Lalu di antara kerumunannya aku berjalan menyusuri tangga alternatif menuju masjid yang terletak tepat disamping area parkir pendatang.

Sesampainya di masjid, kembali aku dikejutkan oleh ibu yang mabuk dalam perjalanan tadi. Sepertinya ibu itu tidak lekas melanjutkan perjalanannya agar bisa cepat sampai kerumah. Aku lihat ibu itu terguling di serambi masjid. Ia nampak sangat kelelahan. Kerudungnya yang kusut menutupi sebagian wajahnya yang terpejam. Sesekali aku mendengar suara ibu itu lirih mengucap syukur.

” Alhamdulillah ya Allah...Alhamdulillahirobbil alamiin..!” ucapan ibu itu membuat aku tertegun. Matanya terus terpejam, dan bibirnya yang kering sedikit terbuka diakibatkan ganjalan lengan kanannya yang ditekuk sebagai bantal.

Tiba – tiba aku teringat ibuku, kakak permpuanku, dan adik – adik perempuanku.

Pemandangan seperti ini sempat membuat aku tidak nyaman, bulu kudukku tiba – tiba berdiri. Aku tidak mengerti maksud dari semuanya.

Sejenak kemudian aku mendengar kembali ibu itu berkata sendirian.

” Alhamdulillah ya Allah..kulo tesih di kei keselametan..” maksud ibu itu dia bersyukur karena masih diberi keselamatan.

Mungkin ibu itu merasa telah lepas dari sebuah masalah besar, dan semua yang dia anggap penderitaan dan kekuatan untuk menghadapinya semata – mata karena kasih sayang Tuhan jua. Dia kini merasa lebih aman dan lebih nyaman meski baru sampai di msajid terminal. Lalu kebahagiaan seperti apa yang akan dia dapatkan jika benar – benar telah sampai tujuannya?, sedangkan baru sampai di peristirahatan saja dia begitu merasa bahagia sekali. Subahanallah...aku tidak bisa menggambarkan kabahagiaan ibu itu nantinya.

Sejenak aku berfikir..mungkin dikarenakan ibu itu mendapatkan kesengsaraan, penderitaan, dan kendala sepanjang perjalanan. Sehingga ia sadar bahwa yang dibutuhkannya adalah Tuhan, karena ia juga mungkin sadar bahwa segala sesuatu itu bermula dan berakhir hanya pada kuasaNYA. Maka sangat wajar apabila ibu itu mendapat kebahagiaan yang sangat istimewa saat bisa melewati penderitaan – penderitaan itu. Ialah kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan seorang manusia yang selalu diingatkan oleh Tuhan untuk tetap bersyukur. Kebahagiaan seorang pejuang yang seharusnya bangga atas kemenangan – kemenangannya.

Tapi...aku juga jadi berfikir pada laki – laki muda yang sepanjang perjalanan tadi selalu asik dengan musik – musik MP3nya itu. Andai saja aku menanyakan sesuatu kepadanya seperti ini...

” Mas, apa yang anda rasakan setelah menempuh perjalanan dari solo ke jogja tadi ?”

Tentu dia akan menjawab.

” Ah biasa – biasa aja, aku nggak ngerasain apa – apa tuh..!”

Mungkin jawaban seperti itu sangat wajar. Atau malah mungkin dia sama sekali tidak merasakan apa – apa karena memang tidak ada keistimewaan dalam prjalanannya itu.

***


Tidak terasa hari semakin sore...perlahan – lahan mataku terasa hangat.

Terimakasih ya Allah, engkau telah memberi aku alasan untuk tidak menyerah apalagi malu dengan segala perjuanganku, penderitaanku, dan perjalanan hidupku.

Bagiku Tuhan sudah sangat jelas menyampaikan pesannya melalui perumpamaan peristiwa ibu paruh baya dan laki – laki muda tadi. Bebal sekali jika aku terus menutup diri dan tidak bisa mengambil inti sarinya.

Sebentar aku melihati ibu itu sudah tertidur dengan nyaman sekali. Ujung – ujung kerudung cantiknya kini sudah mulai mengering dan sesekali bergerak. Angin sore itu terasa lebih lembut dari sebelumnya. Setiap hembusannya menyerupai belaian anak kecil yang mengelus pipi ibunya dengan sayang. Andai saja ketenangan seperti ini akan bertahan selamanya...

Keadaan semakin hening. Lalu akupun bangkit dari duduk dan melangkah menyusuri teras masjid menuju ke tempat wudhu pria.

” Selamat menunaikan ibadah sholat ashara ya dhe...!”



Yogyakarta ??-??-2005

Adhe.

Dont 4get me !


Dont 4get me !


Langit cerah…warna biru siang ini begitu mempesona. Angin perbukitan yang sejuk terus bermain di sela – sela daun pinus. Matahari terlihat samar – samar seperti silau oleh cahayanya sendiri. Di tepi bukit di atas rumput hijau nampak seorang bocah kurus termangu memandangi jurang – jurang dan dataran yang terhampar luas di hadapannya. Nama bocah kecil itu Awan. Awan adalah seorang bocah yang kesepian. Setiap harinya dia diasingkan oleh teman – teman sepermainannya. Kejiwaan Awan semakin hari semakin tidak stabil. Mungkin karena usianya yang terlalu dini dan sensitif. Sehingga apapun yang dilakukan oleh orang tuanya untuk menghibur dia tidak pernah berhasil. Hampir setiap hari seluruh waktunya terbuang di tepi bukit ini. Sendirian, dan selalu sendiri. Pada saat – saat seperti ini tidak jarang dirinya merasakan kerinduan yang teramat dalam. Rindu tentang gelak tawa, rindu tentang persahabatan, rindu tentang semua orang yang mau menghargai dirinya.

Satu dua daun – daun kering terjatuh dari tangkainya seolah jemu bermahkota. Pucuk – pucuk pinus meliuk – liuk indah menyerupai penari balet yang sedang pentas. Suara angin menggesek dahan – dahan begitu menyayat merdu laksana biola sang seniman. Keadaan bukit itu tetap saja sepi, sesepi suasana hati seorang Awan dan kerinduannya. Namun tak berapa lama kemudian Awan kecil itu mulai bangkit dan meninggalkan tempat duduknya. Kakinya yang hitam telanjang menyusuri jalan setapak menuju sebuah taman dimana ia bisa membuang rasa sepinya.

Namun alangkah malangnya nasib Awan sesampainya di taman bukit itu. Ternyata kehadirannya adalah perusak bagi segenap penghuni taman. Dan Awan kecil hanya terdiam melihati mereka yang bergerak meninggalkan bukit menuju lembah pinggir hutan. Sebagian ada yang terbang, sebagian lagi melata, bahkan ada pula yang menyusup ke balik semak – semak.

” Ya tuhan..ada apa ini ?” gumamnya tak mengerti.

Awan masih saja terdiam diantara bunga – bunga taman itu. Fikirannya mengambang seolah tak ada sesuatu yang bisa ia simpulkan. Beberapa saat kemudian Awanpun mulai meninggalkan taman itu dengan berfikir bahwa ia harus melakukan sesuatu.

***

Esok harinya seorang Awan kecil kembali mendatangi taman itu. Di kanan kirinya tergenggam jurai – jurai gandum dan padi yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Sepanjang perjalanan ia melambai – lambaikan jurai gandum dan padi yang ada ditangannya itu. Ia memanggili setiap ada yang melihatnya.

” Woooii...!” berkali – kali Awan berteriak lantang dengan harapan bisa menarik perhatian mereka.

Seketika merekapun bergerak kearah Awan. Begitu riangnya perasaan seorang Awan saat itu. Iapun berlari mengajak mereka kearah taman. Sesampainya di taman, Awan kecilpun mulai mengikhlaskan jurai demi jurai gandum dan padinya pada mereka yang bergerombol. Tampak sekali mereka saling berebut. Bahkan diantaranya seperti tidak merasakan risih lagi untuk berdekatan dengan Awan. Ada pula yang hinggap di bahu dan lengannya. Betapa bahagianya perasaan Awan saat itu, sampai – sampai ia lupa dengan kejadian kemarin. Lalu sambil tersenyum Awanpun berkata dalam hatinya sendiri.

” Ooo...inikah caranya..?”

***

Esok harinya lagi, Awan bergegas kembali ke taman bukit. Kali ini tidak hanya jurai gandum dan padi yang ia bawa. Namun iapun membawakan daging dan buah – buah segar untuk mereka yang tidak suka makanan yang ia bawakan sebelumnya.

Keceriaan seperti kemarinpun terulang lagi. Bahkan kali ini Awan kecil benar – benar merasakan kebahagiaan yang lebih. Keriangannya semakin sempurna. Karena kawannya kini bukan hanya burung – burung atau unggas – unggas hutan saja. Tapi juga beberapa ekor ular, singa, bahkan monyet yang lucupun ikut pula hadir di taman itu. Tak bosan – bosannya Awan kecil bermain dan tertawa dengan mereka yang ada di sekelilingnya. Hingga pada saatnya ia terfikirkan akan keberadaan bunga – bunga yang ada di sampingnya. Lalu iapun berkata seperti ditujukan pada bunga itu.

” Tunggu aku besok ya..!” ucapnya.

***


Esok sorenya lagi. Seorang Awan kecil sudah berada di taman bukit itu dengan segala sesuatu yang ia bawa dari rumah orang tuanya. Seperti biasa ia memberikan bawaan makanan untuk kawan – kawannya itu. Lalu ia biarkan kawan – kawannya itu berkumpul dan bermain dengan kawanannya masing – masing.

Sesaat kemudian terlihat Awan mulai bergerak menyelinap di antara belukar menuruni lembah. Di tentengnya dua ember kayu bermaksud untuk mengambil air dari sumbernya di bawah sana.

Tidak lama kemudian Awan sudah muncul lagi di taman itu dengan dua ember kayu yang terisi penuh dengan air bening.

Dan di antara canda riang kawan – kawannya itu, Awan mulai menyirami setiap bunga yang ada di taman bukit. Satu persatu ia datangi bunga – bunga itu dengan penuh perhatian.

Seusai menyirami, Awanpun lalu membersihkan sekelilingnya dengan tangan, memberinya pupuk kandang, dan memetik daun – daun kering yang merusak keanggunannya. Awan kini merasa puas dengan pekerjaannya, ia tidak lagi merasa khawatir ditinggalkan kawan – kawannya.

Matahari sore terus merambat pelan memulasi langit barat dengan warnanya yang elok. Sementara seorang Awan kecil tampak masih betah bercengkerama dengan bunga – bunga yang ada di sekitar taman bukit itu. Sesekali tangannya mengelus lembut kelopaknya yang indah, menciumi harum parfumnya yang semerbak. Baginya kini tak ada lagi kakhawatiran yang berarti. Ia hanyut, terlena, dan akhirnya iapun tertidur pulas di antara bunga – bunga itu.

***


” Aduh..!!”tiba – tiba saja Awan tersentak dan terjaga dari tidurnya.

Rupa – rupanya rintik air langit telah menetes tepat di wajahnya yang tengadah.

” Dimanakah aku??” bingungnya dalam hati.

Sesaat kedua tangan Awan mengusapi kedua matanya yang masih nanar.

” Taman ini sepi..” batinnya.

Suasana di sekelilingnya begitu gelap. Menatap langitpun seperti sia – sia. Disana sama sekali tidak ada cahaya yang bisa dijumpai. Semua ruang seperti kosong. Hatinya tiba – tiba merasa takut karena tidak bisa melihat apa – apa lagi.

Beberapa saat lamanya Awan kecil kebingungan, hingga pada akhirnya iapun mencoba bangkit. Tangannya berusaha meraba – raba kian kemari. Namun tetap saja ia tidak menemukan apa – apa. Yang ada hanya kegelapan dan kesunyian.

” Dimanakah bunga – bunga itu ?” katanya sambil terus membelalakkan mata berharap bisa menemukan.

” Wooooii....!!” kali ini Awan seperti benar – benar takut dengan keadaannya. Ia begitu keras memanggil – manggil.

” Wooii buruuung..., ayam.., singa..., monyet, ular.., dan siapapun yang mendengarnya.., tolong aku...!!” teriaknya berharap ada salah satu kawannya yang mendengar.

” Tolong aku kawan...aku tidak tahu jalan..!!” ucapnya mengulangi.

Namun tetap saja teriakannya hanya berbalas sunyi. Sebentar kemudian Awan bergerak perlahan tanpa tahu harus kemana. Dan pada saat kebingungan dan ketakutannya seperti itu ia tiba – tiba saja menjerit kesakitan.

” Aduh..!!” teriaknya spontan.

Kakinya terkilir menginjak sebuah lubang. Ia terjatuh di atas tanah lembab. Lalu dengan cepat ia memijat – mijat kakinya sendiri. Namun semakin dipijat sakitnya semakin terasa nyeri dan ngilu. Seperti menyerah lalu Awanpun terdiam sesaat dan berfikir.

“ Ini bukanlah taman yang aku singgahi tadi sore, lalu…dimanakah aku sebenarnya ?” ia terus berfikir terheran – heran.

“ Ya tuhan…berilah aku petunjuk jalan “

” Tolong aku tuhan, aku ingin pulang..” mohonnya dengan nada memelas.

Awan masih saja terduduk. Gerimis hujan tidak berubah. Butiran airnya yang rintik – rintik kecil menambah kegundahan hati seorang Awan kecil saat itu. Lagi - lagi ia menengok ke sekelilingnya, namun tetap saja keadaan tidak berubah. Disini tidak ada bunga, disini tidak ada burung, unggas, atau apapun yang dianggapnya sebagai teman. Ia hanya bisa menunduk lesu dan berusaha untuk sadar bahwa ia kini telah sendiri.

” iya..aku sekarang sendiri..” ungkapnya pelan.

Perlahan namun pasti iapun mengangkat batu yang menjadi tumpuan kedua tangannya.

” Trat..Trat..!!” percikan api itu muncul dari antara batu yang ia bentur – benturkan.

Sekali tak berhasil, dua kali tak berhasil, dan ketiga kalinyapun tetap tak berhasil. Namun Awan seolah tak menyerah untuk mendapatkan api sebagai penerangannya sendiri. Semakin lama mencoba, semakin lemah pula semangatnya. Akhirnya iapun putus asa dan menyerah. Lalu ia berbaring lagi di atas tanah lembab yang kotor.

“ Oh ibu..tolong aku ibu..!!” rintihnya pasrah dengan kedua tangan menutuupi wajahnya yang semakin sedih.

Suasana semakin hening dan gelap. Awan kecil semakin tidak bisa berbuat apa – apa dengan keadaannya.

Cukup lama ia terbaring dalam ruang gelap itu. Hingga akhirnya iapun perlahan – lahan membuka mata dan berusaha untuk duduk kembali.

Tiba – tiba saja ia seperti dalam mimipi. Antara tidak percaya dan rasa gembira ia terperangah menatapi obor yang tengah menancap di ujung kakinya.

Dalam ketakjubannya tiba – tiba ia disentakkan oleh suara seorang wanita.

” Raihlah nak...!”

Betapa kagetnya ia mendengar suara yang sepertinya keluar dari sinaran api obor itu.

” Gapailah obor ini, dan mari kita pulang..!” suara itu terdengar kembali.

Masih dalam keadaan tidak percaya, Awan lalu berkata menimpali.

” Sepertinya kamu bisa berbicara..!?” katanya dengan heran.

’ Hanya engkau sendiri yang membuat oborku berbicara nak..” jawab obor itu lembut.

” Apa maksudmu?” tanya Awan lagi.

“ Karena aku adalah kasih sayangmu yang sejati.” Jawab obor.

Setelah berfikir sejenak Awan lalu berkata kembali.

“ Kalau memang engkau kasih sayangku, kenapa engkau tidak hadir saat aku

memanggil – manggil dan butuh pertolongan ?” ucap Awan.

“ Sesungguhnya aku selalu ada di sisimu di setiap waktu dan setiap musim.

Dimanapun engkau berada anakku...” Tuturnya bersahaja.

” Lalu kenapa kamu tidak menerangiku saat aku terjebak dalam kegelapan ini?”

Tanya Awan lagi.

” Karena engkau terlupa untuk menyalakannya.” jawabnya singkat.

” Menyalakan..?? menyalakan bagaimana ?” Tanya Awan semakin tidak mengerti.

Kali ini obor itu terdiam tak mengeluarkan suara lagi. Suasanapun menjadi hening sesaat. Hembusan angin yang spoi – spoi tiba – tiba saja memadamkan nyala obor itu. Seketika suasana menjadi gelap dan mecekam. Dan bersamaan dengan itu Awan merasa kaget dan sangat takut sambil menjerit spontan tanpa sadar.

” Ibu..!!” jeritnya.

Namun alangkah lebih kagetnya lagi, setelah jeritannya itu tiba – tiba saja obor itu menyala kembali seperti semula.

” Ibu...” lirih Awan dengan nada yang sangat pelan.

Sejenak Awan tertegun dengan bibir bergetar dan kelopak matanya yang mulai menghangat. Dan seketika itu juga air matanya mengalir pelan, ia teringat akan seseorang yang tidak asing dalam hidupnya. Dialah seseorang yang sering dilupakan kehadirannya. Namun dia pula yang selalu ada untuk hidupnya.

” Iya...ini ibu nak, ini adalah kasih sayangmu. Ini adalah cinta ibumu.do’a keselamatanmu.” Ucap sang obor itu terdengar seperti menahan tangis.

Dengan perlahan Awanpun meraih obor itu dan memeluknya erat. Jilatan apinya sama sekali tidak memberikan rasa sakit terhadap wajah Awan. Karena nyala obor itu bukanlah untuk menyakitinya, namun untuk menerangi jalannya menuju ke arah pulang.

” Terima kasih Ibu..”



Yogyakarta – Malam Idul Adha – 2004


Adhe.